My New Gaming Rig

2 Comments

Sebelumnya saya pernah menulis tentang ini tapi Blog kena musibah, akhirnya harus ditulis ulang.

Here we go…

Setelah lama ingin memiliki sebuah komputer untuk bermain game (Gaming Rig) yang mumpuni, akhirnya alhamdulillah bisa juga merakitnya sendiri dengan biaya keringat sendiri 🙂

Spesifikasinya adalah sebagai berikut:

  1. Intel i5 3570K
  2. ASRock Z77 Extreme4 LGA 1155
  3. G.SKILL Sniper Series 8GB (2 x 4GB) DDR3 1866
  4. SSD OCZ Agility 3 120 GB
  5. VGA MSI NVIDIA GEFORCE GTX 680 Lightning 2GB
  6. Lite-On DVD±RW Writer
  7. Casing Corsair Vengeance C70 Military Green
  8. PSU XFX ProSeries XXX Edition 850W
  9. Microsoft Windows 8 64-bit English

OS yang digunakan sengaja dipilih Windows 8 karena menurut beberapa review hasilnya cukup baik untuk memainkan Battlefield 3 🙂

Berikut penampakan pada saat pertamax dirakit:

DSC_0204
My New Gaming Rig

Gambar 1.

Setelah dijalankan pertama kali rasanya ada yang kurang, yup rasanya kalau masih memakai kipas Processor yang standar itu seperti naik Jaguar tapi masih pake Premium haha. Tentu saja dengan memakai kipas ekstra tujuan utamanya adalah Overlocking (OC) 🙂

Setelah update BIOS Asrock Motherboard ke yang terbaru (Asrock) kemudian mulai mencari kipas yang cocok untuk disandingkan dengan i5 3570K Ivy Bridge.

Menurut review, Processor Ivy Bridge lebih susah untuk di OC dari pada seri Sandy Bridge, tetapi secara performa tetap lebih baik seri Ivy Bridge.

Google-fu kesana kemari akhirnya saya memutuskan menggunakan kipas dari Noctua, persisnya Noctua NH-D14, keterangan lebih lanjut bisa dilihat disini.

Tada….!! inilah penampakan dari kipas Noctua yang saya gunakan:

Gaming Rig

Gambar 2.

Gaming Rig

Gambar 3.

Inilah Noctua NH-D14 dengan kelengkapannya (bisa dipakai untuk AMD maupun Intel):

Gaming Rig

Gambar 4.

Kalau gambar dibawah ini adalah perbedaan antara kipas standar Intel dengan Noctua NH-D14, jauh sekali bukan 🙂 :

Gaming Rig

Gambar 5.

Yak, mari dipasang kedalam casing:

Gaming Rig
My New Gaming Rig

Gambar 6.

Setelah selesai dirakit tidak lupa ditambahkan LED warna biru untuk mempercantiknya, saya pilih Akasa AK-178-BL Cold Blue Cathode.

Gaming Rig
My New Gaming Rig

Gambar 7.

Gaming Rig
My New Gaming Rig

Gambar 8.

Selesai juga merakit dan instalasi Windows 8 di Rig yang baru 🙂

Gaming Rig
My New Gaming Rig

Gambar 9.

Untuk OC, saya pilih tutorial di Overclock.net

Setelah beberapa trial & error akhirnya mendapatkan hasil yang stabil di kecepatan 4.5 Ghz dengan konfigurasi sebagai berikut:

  • CPU Ratio 45 (All Core)
  • Host Clock Override (BCLK) 100
  • CPU Core Voltage 1.35V
  • RAM XMP Profile enabled
  • RAM CL 9-10-9-28-2N 1.5V
  • VCCPL 1.78V

Jalankan Prime95 selama 6 jam nonstop tidak ada kendala sama sekali, untuk temperaturnya nanti akan saya lihat lagi, udah pengen maen game haha…

Game yang saya mainkan tidak lebih dari 4, yaitu:

  1. Battlefield 3
  2. Dota 2
  3. Firefall
  4. Diablo III

Jika ada yang ingin tahu hasil Benchmarknya bisa dilihat disini:

OC

OC

Dari kedua gambar diatas dapat disimpulkan perubahan dari CPU hanya meningkatkan Physics Score dan bukan Graphics Score. Hasil yang memang diharapkan dari kombinasi i5 3570K dan Gforce GTX 680.

Semoga Bermanfaat,

iKONs

Note:

Sebelumnya saya ingin berbagi salah satu keindahan di kota Tromso, Norwegia. Terima kasih kepada mas Feri yang sudah mengajak saya dan teman-teman untuk ikut dalam trip mengejar Aurora Borealis, mas Rahmadi buat foto-fotonya yang indah, mas Sanny dan keluarga yang membuat perjalanan menjadi berkesan, mas Yusuf yang telah menyediakan tempat untuk berteduh bagi kami (maaf merepotkan hehe), mbak Lina, mbak Dewi dan mbak Ida yang telah menyambut kami dengan hangat terutama sop buntutnya yang spesial 🙂

Oke langsung saja:

Tromso

Gambar 1. Para Fotografer profesional sedang mencari mangsa (mas Rahmadi dan mas Sanny).

Tromso

Gambar 2. Aurora Borealis seakan-akan muncul dari balik gunung.

Tromso

Gambar 3.

Tromso

Gambar 4. Aurora Borealis lewat tepat diatas kepala kami.

Tromso

Gambar 5. Tidak lupa berpose dengan syal kebanggaan Bonek 🙂

Tromso

Gambar 6. Salam satu nyali…WANI!!

DSC_0181

Gambar 7. mas Feri dan mas Yusuf di Polarmuseet Tromso.

Saya sangat bersyukur sekali bisa berada disini dan melewati hari-hari yang menyenangkan bersama teman-teman dan keluarga baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan sama sekali 🙂

Categories: Coretanku, Hobby Tags:

Belajar Merakit Amplifier Chumoy (Cmoy)

6 Comments

Ini semua berawal ketika headphone/earphone amplifier saya yang dulu dibeli dari sebuah komunitas audiophile di Jakarta rusak karena salah memberi power supply :sad

PCB Chumoy ini juga dibeli dari komunitas tersebut tetapi untuk teman saya, eh tidak disangka ternyata dia masih menyimpan PCBnya dan belum dipasang komponen sama sekali, saatnya belajar merakit Amplifier Chumoy (Cmoy) lagi 😀

Tutorial tentang Chumoy yang bagus dapat dilihat disini.

Ok, langsung saja….

Rangkaian:

  • Amplifier

Gain (Penguatan) yang dihasilkan dari rangkaian diatas adalah:

Gain = (R4 / R3) + 1 = 11x

Pada rangkaian amplifier diatas sebaiknya perlu ditambahkan Capacitor input (C input), gunanya adalah untuk menahan DC Offset yang dapat merusak headphone/earphone. Batas maksimal DC offset ini adalah sekitar 20 mV dan dapat diukur dengan menggunakan multimeter biasa/digital pada output jack Chumoy.

  • Power Supply

Untuk gambar rangkaian pada bagian power supply (Power Section) diatas terdapat kelemahan yang cukup fatal dalam dunia audio. Di bagian yang sebelah mana hayoo? Yup benar sekali kelemahannya adalah pembagian tegangan dengan menggunakan 2 (dua) resistor R1+ dan R1- yang jika kedua resistor tersebut tidak identik maka tegangan yang keluar Vo+ dan Vo- tidak akan seimbang sehingga menyebabkan suara menjadi sember (untuk op-amp tertentu, tergantung voltage swingnya). Hal ini juga dapat menyebabkan naiknya DC offset
#susah sekali menulis rumus matematika di wordpress ini, lain kali akan saya buatkan pembuktian secara matematisnya  😛

Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut diatas adalah dengan membuat sebuah Rangkaian Virtual Ground, dapat dilihat disini.

Saya hanya dapat menemukan Transistor TLE2426 untuk dijadikan sebagai Virtual Ground, sehingga pada power supply akan menjadi seperti ini:

Berikut adalah gambaran kaki TLE2426 pada datasheetnya:

Pemasangan TLE2426 (transistor) pada rangkaian dapat dilihat pada gambar berikut:

Komponen:

  • Op-amp OPA2134
  • Resistor Takman (Carbon) 1/2 watt
  • Potensio ALPS 10K – 50K Ohm
  • C1 = 220 uF/16V Elna Cerafine
  • C2 = 0,1 uF Wima
  • TLE2426 (bentuknya dapat berupa DIP/Transistor)
  • C input min 1 uF (kalau bisa cari yang berbahan Polypropylene)

Berikut adalah hasil Chumoy yang saya buat dengan menggunakan C input 4,7uF merk Nichicon Muse:

Suaranya ternyata melebihi ekspektasi saya, lumayan bagus untuk amplifier dengan budget sekitar 300 ribu 😀

High, Low, Vocal dan instrument hampir dapat dihasilkan dengan baik, ada beberapa hal yang kurang seperti soundstage yang kurang lebar, hentakan drum yang kurang akurat, high yang kurang cring atau vocal yang masih kurang sweet….

Mungkin hal ini disebabkan juga oleh socket input dan output yang masih menggunakan merk abal-abal 😛

UPDATE:

Akhirnya karena penasaran saya mencoba mengganti C input dengan merk Audiophiler (bahan Polypropylene) dengan nilai 3,3 uF:

Rangkaian kemudian menjadi seperti berikut (besar juga ini caps warna kuning lol):

Pada gambar ada penampakan sebuah DC power supply 12 V yang rencana akan saya gunakan ketika tidak dalam kondisi mobile, tetapi ternyata menggunakannya membuat Chumoy mengeluarkan suara dengung yang sangat mengganggu :sigh

Impresi suara setelah diganti C input:
WOW, itu yang pertama kali saya ucapkan….
Bagaimana tidak, rasanya seperti mendengarkan sebuah lagu baru pada tiap track yang saya putar, semua kelemahan yang sebelumnya saya sebutkan hampir tidak ada atau berkurang jauh. Kalau tidak percaya bisa dicoba audisi saja 😀

Tidak terasa udah pagi, saatnya saya undur diri….

Semoga bermanfaat

iKONs

Sumber:

http://tangentsoft.net/audio/cmoy-tutorial/

http://audiophile-id.com

https://en.wikipedia.org/wiki/CMoy

Categories: Coretanku, Hobby

Install WordPress di Localhost Linux

13 Comments

Apa itu WordPress??

Menurut dokter Wiki, WordPress adalah Sistem Manajemen Konten atau dalam bahasa Inggris disebut juga Content Management System (CMS), sifatnya gratis dan Open Source. WordPress bekerja berbasis PHP dan MySQL.

Tentunya sudah pada kenal dengan CMS ya?? ada banyak CMS sebenarnya, seperti WordPress, Mambo/Joomla, Drupal dll.

Tempo hari ada temen yang menanyakan cara install WordPress di Localhost Linux kepada saya jadi sekalian sharing enaknya di post disini aja hehehe…

Sebenarnya diinstall di OS Windows jg bisa hanya beda nya klo di Linux kita membutuhkan Apache (web server), PHP5 dan MySQL database) sedangkan di OS Windows bisa diganti dengan XAMPP (udah include web server + PHP + database) atau menggunakan IIS (web server) dan MsSQL (database).

Pertama yang diperlukan adalah CMS WordPress, bisa didapatkan disini. bisa di download yg .zip atau .tar.gz sama saja.

Disini saya menggunakan Backtrack 5 R1 sebagai OS nya, dimana base OS nya adalah Ubuntu Lucid 10.04, untuk Linux yang lain jika belum ada web server dan database nya harap diinstall dulu, cara melihatnya utk di Debian dan Ubuntu bisa dengan:

sudo dpkg -l |egrep 'mysql|apache2|php'

kalau belum ada install saja:

sudo apt-get install apache2 php5 php5-xmlrpc php5-mysql php5-gd php5-cli php5-curl mysql-client mysql-server

Setelah itu extract file wordpress yang sudah didownload diatas, lihat di dalam folder wordpress isinya kurang lebih seperti ini:

Sudah? pindah folder wordpress tersebut ke /var/www

Kemudian jalankan apache dan mysql-nya:

/etc/init.d/apache2 start
service mysql start

Setelah Apache dan MySQL jalan, selanjutnya adalah konfigurasi pada database MySQL:

[email protected]:~# mysql -u root -p
Enter password:
Welcome to the MySQL monitor.  Commands end with ; or g.
Your MySQL connection id is 61
Server version: 5.1.41-3ubuntu12.3 (Ubuntu)
Type 'help;' or 'h' for help. Type 'c' to clear the current input statement.

mysql> CREATE DATABASE databasename;
Query OK, 1 row affected (0.00 sec)

mysql> CREATE USER wordpressuser;
Query OK, 0 rows affected (0.00 sec)

mysql> SET PASSWORD FOR wordpressuser = PASSWORD(”wordpresspassword“);
Query OK, 0 rows affected (0.00 sec)

mysql> GRANT ALL PRIVILEGES ON databasename.* TO “wordpressuser“@”localhost” IDENTIFIED BY “wordpresspassword“;
Query OK, 0 rows affected (0.00 sec)

mysql> FLUSH PRIVILEGES;
Query OK, 0 rows affected (0.00 sec)

mysql> EXIT

Bye

 

Perhatikan saya melakukan setting MySQL dalam posisi root.

Nama user, database dan password dapat diganti sesuai selera.

Selesai??

Buka browser dan ketik URL ini: http://127.0.0.1/wordpress

Akan muncul halaman seperti dibawah:

Halaman diatas muncul karena kita belum melakukan setting pada file wp-config.php, klik “Create Configuration File”

Masih ingat setting MySQL diatas kan? klik “Let’s Go!”

Isi halaman diatas sesuai dengan setting MySQL sebelumnya, klik “Submit”

Ada peringatan “Sorry, but i can’t write the wp-config.php file”, hal ini normal karena demi alasan keamanan maka standar permissions di folder /var/www adalah 644 atau -rw-r–r–.

Tapi tenang saja, copy saja semua tulisan di dalam box mulai <?php ….. sampai selesai, kemudian buka teks editor (vim, gedit, kwrite dll), paste lalu safe dengan nama wp-config.php dan ditaruh di folder /var/www/wordpress/

Perhatikan pada line 36 sampai 52 di dalam kode wp-config.php tersebut:

Sejak WordPress versi 2.6.8 ada tambahan “Salt” sebagai tambahan keamanan untuk proses otentikasi username dan password.

Fungsi dari salt ini adalah agar password yang tersimpan di dalam database tidak dapat di crack dengan mudah karena telah ditambah dengan “Salt” sehingga hasil hash akan jauh lebih kompleks.

Bisa didapatkan disini untuk “Salt” yang berbeda tiap waktunya (Salt Generator dari WordPress). Paste saja hasil di link tersebut untuk mengganti line 45 sampai 52 file wp-config.php diatas. Tentu saja hal ini adalah optional, tetapi demi keamanan saya anjurkan untuk dirubah…

Sudah?? klik “Run the install”

Kalau segalanya berjalan lancar seharusnya halaman selanjutnya seperti berikut:

Isi halaman diatas sesuai keinginan, selesai klik “Install WordPress”

Voila! WordPress telah terinstall, klik “Log In”

Masukkan Username dan Password yang dimasukkan di halaman “Install WordPress”, klik “Log In”

Yeaah WordPress telah bisa digunakan! pada posisi “Dashboard” langsung saja setting sesuai keinginan seperti add new post, plugins, appereance (theme) dll…

Baiklah mari kita coba tambahkan theme:

Theme dapat di download dimana saja, tetapi untuk install theme tidak disarankan melalui menu Appereance — Themes karena harus menggunakan ftp yang kurang aman, kecuali menggunakan fpts (contoh: vsftpd).

Biasanya saya download saja dari sini: https://wordpress.org/extend/themes/

Bentuk filenya dalam .zip, extract saja kemudian pindahkan folder theme tersebut ke dalam /var/www/wordpress/wp-content/themes/

Defaultnya terdapat 2 (dua) theme di dalam WordPress, lihat saja di folder  /var/www/wordpress/wp-content/themes/, ada folder twentyeleven dan twentyten. Setelah memindahkan folder theme diatas maka ketika kita buka menu Appereances –> Themes maka akan muncul tampilan seperti berikut:

Pada gambar diatas saya memilih theme “Graphene 1.6 by Syahir”, untuk aktifasinya tinggal scroll ke bawah dikit lalu klik “activate”

Selesai?? refresh browser di posisi http://127.0.0.1/wordpress/

Tampilan sebelum theme diganti:

Setelah theme diganti:

Mudah bukan install WordPress di Localhost Linux?? hal yang sama dapat dilakukan juga untuk instalasi Plugin dll…

Semoga bermanfaat,

Jika banyak kekurangan dan kesalahan mohon dikoreksi,

iKONs

Sumber:
http://www.ehacking.net/2012/02/how-to-install-wordpress-on-localhost.html
http://www.cyberciti.biz/faq/howto-use-grep-command-in-linux-unix/
http://www.ubuntugeek.com/installing-wordpress-3-0-on-ubuntu-10-04-lucid-lynx.html

Bermain DOTA di OS Linux

No Comments

Well bisa dibilang tepatnya di OS Backtrack 5 R1 (BT5) dengan basis Ubuntu 10.04…mungkin untuk Ubuntu versi yang lain juga bisa, silahkan dicoba saja 🙂

setelah hampir putus asa ga bisa maen dota di BT5, akhirnya secara ga sengaja berhasil juga 😀

ini semua gara-gara kepengen banget buat pindah dari OS Windows ke Linux sehingga semua yg sering ane gunain di Windows pelan-pelan ane pindahin ke BT5 :rolleyes:
udah jatuh hati sih sama yg namanya Backtrack 😛

ternyata caranya adalah update wine ke versi terbaru (yg ane pake skrg 1.3.26), caranya:

add-apt-repository ppa:ubuntu-wine/ppa
apt-get update
apt-get install wine1.3

kemudian untuk menjalankan gamenya harus masuk ke folder dimana Warcraft III diinstall/dikopi, klo di laptop ane ada di /media/New Volume/Warcraft III/

kalo kita jalankan wine di luar folder tersebut,

[email protected]:~# wine /media/New Volume/Warcraft III/w3l.exe --opengl

maka akan muncul error seperti dibawah ini:

Jadi kita harus menuju ke folder tersebut,

[email protected]:~# cd /media/New Volume/Warcraft III/

kemudian jalankan file w3l.exe dengan -opengl, mengapa harus opengl?

hal ini karena wine secara default tidak terinstall Directx  yang standar digunakan oleh game-game OS Windows.

[email protected]:/media/New Volume/Warcraft III# wine w3l.exe -opengl

seperti tampilan di bawah ini:


mungkin nanti akan muncul error-error seperti gambar diatas tetapi abaikan saja asal bisa masuk ke dalam game dan bermain 🙂

sudah saya coba untuk bermain di battlenet IDGS dan lancar-lancar saja, hanya 1x error keluar game dalam sekitar 15x permainan :p

maaf ga bisa kasih screenshot di dalam game, gimana ya caranya printscreen di dalam game trus di paste di Linux? suram dah hahaha…

mungkin kelemahannya hanya satu, alt-tab yg kurang sempurna dan pergerakan mouse kurang halus ketika tidak menggunakan mouse USB (kenapa juga maen DOTA ga pake mouse hahaha)

Semoga bermanfaat

M

Note:

Spesifikasi laptop ane,

  • Core 2 Duo
  • RAM 4 GB
  • VGA Nvidia Gforce GT240M
Categories: Hobby Tags: